Skip to main content

Ilmu Sebagai Fondasi Pengembangan Kebudayaan Nasional



 Oleh : Virandy Putra


Ilmu merupakan kegiatan berpikir untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, atau secara lebih sederhana, ilmu bertujuan untuk mendapatkan kebenaran. Kriteria kebenaran ini pada hakikatnya bersifat otonom dan terbebas dari struktur kekuasaan diluar bidang keilmuan. Ilmu juga merupakan suatu cara berpikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan (Jujun, 2007). Namun meskipun demikian berpikir bukan satu-satunya cara dalam mendapatkan pengetahuan dan ilmu juga bukan satu-satunya produk dari kegiatan berpikir. Ilmu merupakan produk dari proses berpikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat disebut suatu cara berpikir secara ilmiah.
Berpikir ilmiah merupakan kegiatan berpikir yang memenuhi persyratan-persyaratan tertentu. Pesyaratan tersebut pada hakikatnya mencakup dua kriteria utama yakni pertama, berpikir ilmiah harus mempunyai alur jalan pikiran yang logis dan kedua, pernyataan yang bersifat logis tersebut harus didukung oleh pernyataan yang empiris. Dari hakikat berpikir ilmiah Jujun (2007) menyimpulkan beberpa karakteristik dari ilmu. Pertama ilmu mempunyai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Kedua alur jalan pikiran yang logis yang konsisten dengan pengetahuan yang telah ada. Ketiga pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran objektif. Keempat mekanisme yang terbuka terhadap koreksi, hal ini mengisyaratkan bahwa ilmu tidak memiliki jaminan bahwa pernyataan sekarang benar secara ilmiah namun dikemudian hari dapat diperbaiki ataupun dikoreksi.
Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan bagian dari unsur kebudayaan. Kebudayaan merupakan seperangkat sistem nilai, tata hidup dan sarana bagi manusia dalam kehidupannya. Kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita suatu bangsa yang diujudkan dalam kehidupan bernegara (Jujun, 2007). Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling bergantung dan saling mempengaruhi. Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional ilmu mempunyai peranan ganda. Pertama, ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya kebudayaan nasional. Kedua ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak atau karakter suatu bangsa.
Pengkajian dan pengembangan kebudayaan nasional tidak dapat dilepaskan dari pengembangan ilmu. Dalam kurun waktu dewasa ini yang dikenal sebagai era globalisasi yang menyebabkan arus ilmu dan teknologi menuju masuk dalam suatu kawasan tanpa adanya sekat atau batas-batas wilayah suatu negara. Perubahan global yang sedang terjadi merupakan revolusi global yang melahirkan suatu gaya hidup (a new life style). Karakteristik gaya hidup tersebut adalah kehidupan yang dilandasi penuh persaingan sehingga meminta masyarakat dan organisasi didalamnya agar mampu mengikuti perubahan-perubahan yang cepat terjadi.  Menurut Deni & Halimah (2008) terdapat 4 ciri utama globalisasi yaitu 1) Dunia tanpa batas (borderless world) 2) kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi aplikasinya didalam kehidupan manusia, 3) kesadaran terhadap hak dan kewajiban asasi manusia (human right and obligation4) kerjasama dan kompetensi antar bangsa.
Pengaruh yang lebih dominan pada era globalisasi sekarang ini lebih terarah pada teknologinya saja, sedangkan teknologi tersebut merupakan produk dari kegiatan ilmiah. Sementara hakikat keilmuan itu sendiri yang merupakan sumber nilai yang konstruktif bagi pengembangan kebudayaan nasional pengaruhnya dapat dikatakan minimal sekali (Jujun, 2007). Dalam pembentukan karakter bangsa, negara kita sedang diarahkan menjadi suatu bangsa yang modern. Bangsa yang modern akan menghadapi berbagai permasalahan dalam bidang politik, ekonomi, kemasyarakatan, teknologi, pendidikan maupun yang lain-lain. Menurut Jujun (2007) terdapat tujuh nilai yang terdapat dari hakikat keilmuan. Adapun ketujuh nilai tersebut yaitu : kritis, rasional, logis, obyektif, terbuka, menjunjung kebenaran dan pengabdian universal.
Pengembangan kebudayaan nasional pada hakikatnya adalah perubahan dari kebudayaan yang sekarang bersifat konvensional kearah situasi kebudayaan yang lebih mencerminkan aspirasi dan tujuan nasional. Proses pengembangan kebudayaan ini pada dasarnya adalah penafsiran kembali nilai-nilai konvensional agar lebih sesuai dengan tuntutan zaman serta penumbuhan nilai-nilai baru yang fungsional. Untuk terlaksananya kedua proses dalam pengembangan kebudayaan nasional maka diperlukan ketujuh nilai, seperti yang telah disebutkan diatas. Sekiranya dapat diterima bahwa ilmu bersifat mendukung kebudayaan nasional, maka masalahnya adalah bagaimana caranya meningkatkan peranan keilmuan dalam kehidupan kita.
Mesti disadari bahwa keadaan masyarakat kita sekarang masih jauh dari tahap masyarakat yang berorientasi kepada ilmu. Bahkan dalam masyarakat yang terdidikpun ilmu masih menjadi koleksi teori-teori yang bersifat akademik yang sama sekali tidak fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Memperhatikan keadaan seperti ini Jujun (2007) berpendapat : Pertama, ilmu merupakan bagian dari kebudayaan oleh sebab itu langkah-langkah kearah peningkatan peranan dan kegiatan keilmuan harus memperhatikan situasi kebudayaan masyarakat kita. Kedua, ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran. Ketiga, asumsi dasar dari semua kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah rasa percaya terhadap metode yang digunakan dalam kegiatan tersebut. Keempat, pendidikan keilmuan harus sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral, mangkin tinggi ilmu seseorang maka harus mangkin luhur landasan moralnya. Kelima, pengembangan bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam bidang filsafat, terutama yang menyangkut keilmuan. Keenam, kegiatan ilmiah haruslah bersifat otonom yang terbebas dari kekangan struktur kekuasaan. Pada hakikatnya semua unsur kebudayaan harus diberi otonomi dalam menciptakan paradigma mereka sendiri. Walaupun demikian tidak berarti bahwa kegiatan keilmuan harus terlepas sama sekali dari kontrol pemerintah dan masyarakat.
Sebagai bangsa maka kita masih berada dalam tahap “menjadi” atau dengan kata lain, semangat pionir dan kepahlawanan masih diperlukan. Semangat pionir dan kepahlawanan berkaitan erat dengan keberanian dan sikap sosial. Semangat pionir dan kepahlawanan itu dapat didefenisikan sebagai keberanian untuk memperjuangkan kepentingan umum. Ilmu mengajari kita tentang keberanian moral untuk mempertahankan apa yang dianggap benar dengan ilmu merupakan arena dari petualangan ide dan semangat pionir dapat menjelajah secara leluasa dalam mengabdi terhadap tanah air kita.

Air Seruk, 6 Desember 2015

Comments

  1. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Game Angry Bird Sebagai Media Pembelajaran Fisika Pada Praktikum Gerak Parabola

Oleh : Virandy Putra Pembelajaran Fisika merupakan salah satu pelajaran yang paling dihindari oleh siswa. Bahkan Fisika merupakan pelajaran yang paling sulit diantara pelajaran yang lainnya, sehingga banyak siswa yang kurang bersemangat dalam belajar. Keadaan ini sungguh ironis mengingat ilmu fisika adalah salah satu ilmu   yang harus dikuasai bagi mereka yang ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi terutama pada jurusan MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Kondisi yang sama juga dialami para siswa ditempat saya mengajar yaitu di SMA Negeri 1 Sijuk. Pembelajaran fisika kurang menarik perhatian siswa sehingga siswa kurang fokus dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Melihat kondisi tersebut saya sebagai guru berinisiatif untuk membuat pelajaran lebih menarik dengan memanfaatkan game Angry Bird sebagai perangkat kegiatan praktikum khususnya pada konsep gerak benda. Dengan memanfaatkan game Angry Bird diharapkan siswa lebih bersemangat dalam mempelajari fisika dan te...

Pendidikan Kesetaraan Berbasis Proyek : Ekoenzim untuk Kecakapan Hidup

Pendidikan kesetaraan merupakan bagian dari pendidikan non formal memiliki peranan yang sangat strategis dalam meyediakan akses pendidikan yang lebih inklusif dan kontekstual bagi masyarakat. Praktik pendidikan di program kesetaraan umumnya masih cendrung bersifat teoritis dan kurang mengaitkan kegiatan belajar dengan kehidupan nyata murid dalam hal ini warga belajar. Kondisi tersebut berakibat pada rendahnya keterlibatan dan makna belajar itu sendiri, untuk itu diperlukan sebuah inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan dan kecakapan hidup dalam kegiatan belajar mengajar. Sementara itu, isu lingkungan khususnya pengelolaan sampah organik menjadi masalah yang semakin aktual di negara kita. Sampah organik rumah tangga seperti sisa buah dan sayur masih belum termanfaatkan secara optimal sehingga pengolahannya baru sebatas dibuang atau dibakar. Aktivitas membuang  atau membakar sisa sampah organik berpotensi mencemari lingkungan serta emisi gas rumah kaca. Kegiatan membua...

Antara Sisa Makanan, Kompos Tank dan Kandang Ayam

Satu tahun lalu, awal maret 2025 saya bersama keluarga (istri dan anak) memasuki babak baru kehidupan. Akhirnya kami pindah ke rumah yang baru selesai kami bangun, lokasinya bersebelahan dengan rumah mertua. Setelah beberapa tahun tinggal bersama mertua, Alhamdulillah akhirnya kami bisa memiliki rumah sendiri.  Sebagai keluarga yang baru pindah, kami seperti menemukan babak baru dalam kehidupan. Kami mulai belajar mengatur keuangan, cucian, masak sampai pada urusan pengelolaan sampah domestik rumah kami. Sejak awal saya dan istri berkomitmen untuk megolah sendiri sisa sampah dapur kami. Langkah awal yang kami lakukan adalah dengan memisahkan sampah organik (sisa makanan, sayur dan lain-lain) dengan sampah non-organik seperti plastik kemasan, keresek dan botol. Setiap hari kami pisahkan agar lebih mudah dalam mengolahnya. Seingatku diawal kami pindah rumah, seringkali kami memasak melebihi kebutuhan keluarga, hal ini berakibat pada sisa makanan yang menumpuk dan terpakasa harus kami...