Pendidikan kesetaraan merupakan bagian dari pendidikan non formal memiliki peranan yang sangat strategis dalam meyediakan akses pendidikan yang lebih inklusif dan kontekstual bagi masyarakat. Praktik pendidikan di program kesetaraan umumnya masih cendrung bersifat teoritis dan kurang mengaitkan kegiatan belajar dengan kehidupan nyata murid dalam hal ini warga belajar. Kondisi tersebut berakibat pada rendahnya keterlibatan dan makna belajar itu sendiri, untuk itu diperlukan sebuah inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan dan kecakapan hidup dalam kegiatan belajar mengajar.
Sementara itu, isu lingkungan khususnya pengelolaan sampah organik menjadi masalah yang semakin aktual di negara kita. Sampah organik rumah tangga seperti sisa buah dan sayur masih belum termanfaatkan secara optimal sehingga pengolahannya baru sebatas dibuang atau dibakar. Aktivitas membuang atau membakar sisa sampah organik berpotensi mencemari lingkungan serta emisi gas rumah kaca. Kegiatan membuang dan membakar sampah organik tersebut juga ditemukan diberbagai lingkungan berbasis komunitas, termasuk di pondok pesantren Imam Syafie Sijuk tempat pendidikan kesetaraan berlangsung. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan santri, sisa sampah organik umumnya dibuang atau dibakar, sehingga belum ada usaha untuk mengelola sampah tersebut.
Berbagai penelitian menunjukan bahwa pemanfaatan sampah organik melalui teknologi sederhana seperti ekoenzim dapat menjadi solusi yang efektif dan berkelanjutan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Arifian & Kusuma (2025) Pemanfaatan sampah organik melalui pembuatan ekoenzim terbukti efektif sebagai solusi pengelolaan limbah rumah tangga yang ramah lingkungan sekaligus memberikan nilai guna ekonomis bagi masyarakat. Penelitian yang dilakukan oleh Gultom dkk (2025) menyatakan bahwa pelatihan pengolahan sampah organik menjadi ekoenzim terbukti meningkatkan pengetahuan masyarakat secara signifikan dari kategori kurang (72%) menjadi kategori baik setelah kegiatan sosialisasi dan praktik langsung.
Dari sisi Pendidikan, pendekatan berbasis proyek dan keterlibatan langsung peserta terbukti efektif dalam meningkatkan pemehaman dan kesadaran lingkungan. Penelitian yang dilakukan Karyadi dkk (2026) menyatakan bahwa Melalui praktik pembuatan ekoenzim berbasis pembelajaran kontekstual, terbukti mampu meningkatkan pemahaman murid (61% kategori sangat baik) serta menumbuhkan sikap peduli lingkungan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, penerapan kegiatan berbasis praktik seperti pembuatan ekoenzim menjadi alternatif efektif dalam mendukung pembelajaran IPA sekaligus membentuk perilaku ramah lingkungan. Lebih lanjut, inovasi ekoenzim juga berkontribusi dalam mendukung konsep pembangunan berkelanjutan dan ekonomi sirkular, karena mampu mengubah limbah menjadi produk yang bernilai guna. Dalam konteks pendidikan, kegiatan ini dapat diintegrasikan sebagai pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam menyelesaikan permasalahan nyata di lingkungannya.
Pada materi IPA kelas 9 terdapat materi bioteknologi, konsep bioteknologi memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui kegiatan praktik yang kontekstual. Integrasi antara pembelajaran bioteknologi dan praktik pengolahan sampah organik melalui pembuatan ekoenzim menjadi alternatif yang tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga kecakapan hidup warga belajar. Berdasarkan uraian tersebut, diperlukan suatu praktik pembelajaran yang mampu mengintegrasikan konsep sains, keterampilan hidup, serta kepedulian lingkungan secara nyata. Oleh karena itu, pembuatan ekoenzim dipilih sebagai bentuk praktik baik pembelajaran pada pendidikan kesetaraan di lingkungan pondok pesantren.
Hasil dan Dampak
Praktik baik pembelajaran yang telah dilakukan memberikan gambaran bahwa warga belajar memiliki pemahaman terhadap konsep bioteknologi sederhana khususnya pada pembuatan ekoenzim. Hasil observasi menunjukan bahwa keterampilan hidup warga belajar berada pada kategori baik hingga sangat baik, terutama pada asepek keterampilan dan kerjasama. Warga belajar mampu bekerja secara kolaborasi dalam kelompok serta mengikuti prosedur pembuatan ekoenzim dengan sangat baik serta pemahaman yang sangat baik terhadap kepedulian lingkungan.
Kegiatan pembelajaran melalui pembuatan ekoenzim merupakan salah satu praktik baik yang dapat mengintegrasikan konsep bioteknologi sederhana dengan keterampilan hidup dalam pendidikan kesetaraan, khususnya bagi santri. Pendekatan kontekstual dengan pembelajaran dengan model proyek terbukti potensial delam meningkatkan pemahaman warga belajar, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan. Model pembelajaran ini direkomendasikan untuk diterapkan pada satuan pendidikan non formal dengan menyesuaikan terhadap kondisi lokal yang ada.
.jpeg)

Comments
Post a Comment