Satu tahun lalu, awal maret 2025 saya bersama keluarga (istri dan anak) memasuki babak baru kehidupan. Akhirnya kami pindah ke rumah yang baru selesai kami bangun, lokasinya bersebelahan dengan rumah mertua. Setelah beberapa tahun tinggal bersama mertua, Alhamdulillah akhirnya kami bisa memiliki rumah sendiri.
Sebagai keluarga yang baru pindah, kami seperti menemukan babak baru dalam kehidupan. Kami mulai belajar mengatur keuangan, cucian, masak sampai pada urusan pengelolaan sampah domestik rumah kami. Sejak awal saya dan istri berkomitmen untuk megolah sendiri sisa sampah dapur kami. Langkah awal yang kami lakukan adalah dengan memisahkan sampah organik (sisa makanan, sayur dan lain-lain) dengan sampah non-organik seperti plastik kemasan, keresek dan botol. Setiap hari kami pisahkan agar lebih mudah dalam mengolahnya.
Seingatku diawal kami pindah rumah, seringkali kami memasak melebihi kebutuhan keluarga, hal ini berakibat pada sisa makanan yang menumpuk dan terpakasa harus kami buang karena sudah tidak layak dimakan. Ada perasaan sedih ketika membuang makanan.
Saya mencari-cari ide dengan melihat konten-konten yang ada di sosial media, hingga akhirnya saya menemukan salah ssatu akun instagram yaitu Kebun Kumara. Konten yang ditampilkan disana sangat menarik perhatian saya, terutama bagaimana cara mengolah sampah organik skala rumahan. Sampah organik yang ada di rumah mereka kelola melalui kompos tank yang mereka buat. Setelah melihat konten mereka, saya pun mencari sisa-sisa ember cat, yang akan saya gunakan untuk membuat kompos tanknya. Setelah mengikuti langkah-langkah pembuatan kompos tank, akhirnya kompos tank tersebut selesai dibuat dan siap digunakan. Saya lega permasalahan sampah organik bisa diselesaikan dengan pembuatan kompos tank tersebut. Dengan adanya kompos tank, sisa makanan dari rumah tidak terbuang sia-sia, namun dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk kompos yang nantinya akan saya gunakan kembali untuk menyuburkan tanaman saya.
![]() |
Gambar 1 : Kompos Tank dari Ember Seminggu berlalu, kompos tank yang sudah saya buat ternyata sudah penuh, sementara itu kemampuan si "kompos tank" untuk mengolah sampah organiknya tidak secepat yang saya bayangkan. Perlu waktu untuk menjadikan sisa makanan kami menjadi kompos. Sementara itu sisa makanan kami terus menumpuk setiap harinya. Kondisi kompos tank yang cepat penuh "memaksa' saya untuk mencari cara lain yang lebih efektif sampah kami bisa terkelola dengan baik. Akhirnya setelah mencari ide dan referensi di internet, di akun Instagram Kebun Kumara dan Yoso farm ternyata memelihara ayam adalah salah satu solusi alternatif yang dapat digunakan untuk mengolah sampah organik skala rumahan. Sisa makanan dari rumah bisa langsung diberikan ke ayam, dan yang yang paling "bomb" ternyata memilihara ayam sangat efektif untuk mengatasi sisa sampah organik keluarga kami. Gambar 2 : Jenis ayam merawang yang kami pelihara Kami memelihara jenis ayam merawang, bibitnya saya dapatkan dari salah satu rekan kami. Awalnya saya membeli telur, untuk kemudian ditetaskan di alat penetas. Dari 10 telur yang coba kami tetaskan, ada 6 telur yang menetas dan menjadi DOC ayam. 6 ayam tersebut kami rawat hingga sekarang. Sejak bulan oktober tahun lalu, hampir setiap hari kami panen telur ayam, bahkan sehari kadang kami bisa mendapatkan 3 butir telur. Nasib Kompos Tank Kompos tank yang sudah saya buat, tidak serta merta menjadi tidak digunakan. Hanya karena kami sudah memelihara ayam menjadikan kompos tank tidak digunakan lagi-tentu saja tidak. Kompos tank tersebut masih digunakan untuk mengkompos sisa-sisa sampah organik, terutama sisa bagian dalam ikan (usus dll) atau sejenis daging yang jika diberikan langsung ke ayam, akan mengundang lalat yang banyak karena akan menjadi bangkai. Kompos tank menampung itu semua, jumlah nya yang tidak banyak menjadikannya ideal untuk dimasukan ke kompos tank. Akhirnya, masalah sampah organik di keluarga kami bisa kami atasi dengan memelihara ayam dan juga membuat kompos tank. Sampah organik berhasil diselesaikan, dapat bonus telur, dan pupuk kandang. Virandy Putra *Guru SMA & bapak-bapak biasa yang suka berkebun |


Comments
Post a Comment